Hikayat Negeri Peusangan
Peusangan adalah sebuah Kecamatan yang terletak di wilayah timur Kabupaten Bireuen, Kabupaten Bireuen sendiri dulunya merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Aceh Utara. Sejarah Aceh Utara sendiri tidak dapat dilepaskan dari sejarah perkembangan Kerajaan Islam di pesisir Sumatera yaitu Samudera Pasai yang terletak di Kecamatan Samudera Geudong yang merupakan tempat pertama kehadiran Agama Islam di kawasan Asia Tenggara. Kerajaan-kerajaan Islam di Aceh mengalami pasang surut, mulai dari zaman Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, kedatangan Portugis ke Malaka pada tahun 1511 sehingga 10 tahun kemudian Samudera Pasai turut diduduki, hingga masa penjajahan Belanda.
Secara de facto Belanda menguasai Aceh pada tahun 1904, yaitu ketika Belanda dapat menguasai benteng pertahanan terakhir pejuang Aceh Kuta Glee di Batee Iliek di Samalanga. Dengan surat Keputusan Vander Geuvemement General Van Nederland Indie tanggal 7 September 1934, Pemerintah Hindia Belanda membagi Daerah Aceh atas 6 (enam) Afdeeling (Kabupaten) yang dipimpin seorang Asistent Resident, salah satunya adalah Affleefing Noord Kust Van Aceh (Kabupaten Aceh Utara) yang meliputi Aceh Utara sekarang ditambah Kecamatan Bandar Dua yang kini telah termasuk Kabupaten Pidie (Monografi Aceh Utara tahun 1986, BPS dan BAPPEDA Aceh Utara). Afdeeling Noord Kust Aceh dibagi dalam 3 (tiga) Onder Afdeeling (Kewedanaan) yang dikepalai seorang Countroleur (Wedana) yaitu :
1. Onder Afdeeling Bireuen
2. Onder Afdeeling Lhokseumawe
3. Onder Afdeeling Lhoksukon
Selain Onder Afdeeling tersebut terdapat juga beberapa Daerah Ulee Balang (Zelf Bestuur) yang dapat memerintah sendiri terhadap daerah dan rakyatnya yaitu Wee Balang Keuretoe, Geurogok, Jeumpa, dan Peusangan yang diketuai oleh Ampon Chik.
Pada masa pendudukan Jepang istilah Afdeeling diganti dengan Bun, Onder Afdeeling disebut Gun, Zelf Bestuur disebut Sun, Mukim disebut Kun dan Gampong disebut Kumi. Sesudah Indonesia diproklamirkan sebagai Negara Merdeka, Aceh Utara disebut Luhak yang dikepalai oleh seorang Kepala Luhak sampai dengan tahun 1949. Melalui Konfrensi Meja Bundar, pada 27 Desember 1949 Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia dalam bentuk Negara Republik Indonesia Serikat yang terdiri dari beberapa negara bagian. Salah satunya adalah Negara Bagian Sumatera Timur. Tokoh-tokoh Aceh saat itu tidak mengakui dan tidak tunduk pada RIS tetapi tetap tunduk pada Negara Republik Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945.
Dengan Keputusan Perdana Menteri Republik Indonesia Nomor I/ Missi / 1957, lahirlah Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Dengan sendirinya Kabupaten Aceh Utara masuk dalam wilayah Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Berdasarkan Undang Undang Nomor I tahun 1957 dan Keputusan Presiden Nomor 6 tahun 1959. Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Utara terbagi dalam 3 (tiga) Kewedanaan yaitu :
1. Kewedanaan Bireuen terdiri atas 7 kecamatan
2. Kewedanan Lhokseumawe terdiri atas 8 Kecamatan
3. Kewedanaan Lhoksukon terdiri atas 8 kecamatan
Dua tahun kemudian keluar Undang Undang Nomor 18 tahun 1959 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah. Berdasarkan UU tersebut wilayah kewedanaan dihapuskan dan wilayah kecamatan langsung di bawah Kabupaten Daerah Tingkat II. Dengan surat keputusan Gubemur Kepala Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh Nomor: 07 / SK / 11 / Des/ 1969 tanggal 6 Juni 1969, wilayah bekas kewedanaan Bireuen ditetapkan menjadi daerah perwakilan Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Utara yang dikepalai seorang kepala perwakilan yang kini sudah menjadi Kabupaten Bireun.
Hampir dua dasawarsa kemudian dikeluarkan Undang Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah, sebutan Kepala Perwakilan diganti dengan Pembantu Bupati Kepala Daerah Tingkat II, sehingga daerah perwakilan Bireuen berubah menjadi Pembantu Bupati Kepala Daerah Tingkat II Aceh Utara di Bireuen.
Peran Peusangan dalam pergerakan dan perubahan di Indonesia juga tidak boleh dinafikan yaitu pada tanggal 5 Mei 1939 diadakan rapat di sebuah gedung yang sekarang dikenal dengan Universitas Almuslim oleh sekelompok ulama-ulama yang ada di Aceh, yang kemudian lahirlah Organisasi PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh), yang diketuai oleh Tengku Muhammad Daud Beureuh. PUSA berusaha meningkatkan syi’ar Islam, dengan meningkatkan pendidikan agar terlaksana syi’ar Islam dalam masyarakat. Dalam perjuangannya, organisasi ini bergabung dalam MIAI.
Menceritakan Negeri Peusangan ingatan kita tidak terlepas dari romatika sejarah hikayat Malem Dewa, dan hubungannya dengan ”Negeri Di Atas Angin” atau negeri ”Antara”. Mungkin kalau sekarang termasuk wilayah Tanah Gayo Aceh Tengah dengan ibukotanya Takengon.
Kata Leuser, adalah nama gunung di tengahnya. Sedangkan kata “Antara” ini mungkin bisa diartikan letaknya di antara kedua kabupaten Tanah Gayo ini. Tetapi, di Aceh, Tanah Gayo Kabupaten Aceh Tengah juga sering disebut sebagai negeri “Antara” atau “Negeri di Atas Angin”. Nama ini erat kaitannya dengan legenda rakyat Aceh Tengah, Malem Dewa yang mengisahkan tentang percintaan Malem Dewa dengan Peteri Bensu (Putri Bungsu) yakni seorang bidadari yang nyasar ke Kerajaan Antara dan sayapnya untuk terbang disembunyikan Malem Dewa yang jatuh cinta kepadanya.
Kisah Malem Dewa dan Peteri Bensu, adalah kisah cinta abadi tiada taranya. Indah dan penuh dengan pengalaman suka duka serta rintangan berat yang hampir saja berakhir karena ayah dan ibu Peteri Bensu berupaya mengembalikan anaknya ke Kerajaannya di langit. “Negeri Antara” dalam legenda Malem Dewa rakyat Aceh Tengah berada di sebuah gunung di atas Danau Laut Tawar.
Malem Dewa adalah putra seorang Raja Peusangan yang sekarang masuk dalam wilayah Kabupaten Bireun. Malem Dewa sedang mandi di sungai dan tiba-tiba ia mendapatkan sehelai rambut panjang hanyut di sungai. Dan ia menelusuri Sungai Krueng Peusangan untuk mencari pemilik rambut yang ternyata adalah milik Puteri Bensu.
Kisah di atas, entah benar atau sekedar mitos, yang pasti hikayat tersebut sudah melagenda di dalam kultur masyarakat Peusangan, tetapi hampir setiap orang Peusangan meyakini tentang kebenaran hikayat tersebut. Sampai-sampai dulu dikisahkan oleh beberapa orang tua yang ada di Peusangan setiap orang yang ingin menutur atau menceritakan tentang hikayat Malem Dewa terlebih dahulu harus mengadakan kenduri untuk anak yatim. Yang paling terkenal dan ahli dalam hal menceritakan hikayat Malem Dewa ini adalah almarhum Tgk. Adnan PMTOH, konon kabarnya seniman tutur ini dalam menceritakan hikayat Melem Dewa bisa memakan waktu tiga malam pertunjukan yang dihadiri oleh masyarakat.
Walaupun hikayat Malem Dewa ini menurut beberapa orang hanya sekedar mitos, tapi masyarakat sangat meyakini itu adalah cerita yang benar-benar terjadi, sehingga di daerah Awe Geutah yang terletak kurang lebih 10 kilometer arah selatan Kota Matangglumpangdua sebagai ibukota Kecamatan Peusangan, sampai sekarang orang meyakini ada tupai peliharaan Malem Dewa, orang-orang di sana menyebutnya ”Tupai Teungku Malem”.
Menurut cerita turun temurun, dahulu semasa Ampon Chiek Peusangan masih ada setiap penduduk diwajibkan untuk menanam pohon buah-buahan di depan rumahnya, terutama giri (jeruk bali), sehingga tidak heran sampai sekarang jeruk bali telah menjadi komoditas khas Peusangan.
Selasa, 18 Desember 2012
Hikayat Tram Atjeh dan Impian Panglima Prang
02.23
No comments
Namanya Ali Bahrul. Umurnya sudah renta, 94 tahun. Di kampungnya di Desa Pante Pisang, Kecamatan Peusangan, Bireuen, Ali Bahrul lebih dikenal sebagai Pang Ali Gelanggang Labu. Embel-embel “Pang” di depan namanya adalah sebuah jabatan yang pernah ia disandang puluhan tahun lalu: Panglima!
Ali Bahrul memang seorang panglima perang. Pang Ali pernah memimpin 50 tentara sukarela yang diberi nama Pasukan Mujahiddin. Mereka terjun ke berbagai medan pertempuran. Salah satu yang paling membekas di benaknya adalah ketika terjun ke pertempuran Medan Area di Tanjung Pura dan Langkat, perbatasan Aceh – Sumatera Utara pada 1946.
Bersenjatakan parang, lembing, dan 12 pucuk senjata hasil rampasan, Pang Ali dan pasukannya berangkat dengan kereta api dari Bireuen ke Tanjung Pura. Tiga hari di sana, pasukan itu disiram peluru oleh tiga pesawat tempur Belanda. “Seorang anak buah saya terluka, yang lain selamat karena kami sembunyi di parit penuh air,” kenang Pang Ali.
Jika biasanya ingatan menjadi masalah bagi pria renta, Pang Ali adalah sebuah pengecualian. Meski sudah renta, ingatannya masih tajam. Dengan bangga ia mengisahkan keterlibatannya dalam sejumlah pertempuran dengan pasukan pendudukan.
Selain menghalau Belanda, Pang Ali juga tak tinggal diam saat Jepang masuk ke Aceh pada 1942. Suatu hari, Pang Ali melihat seorang serdadu Jepang menyandang senjata, patroli sendirian di Krueng Panjoe. Saat itu, timbul niatnya merampas bedil itu. Sayangnya, Pang Ali sedang tangan kosong. Siasat pun di atur. Mereka lantas bersembunyi di sumur tua yang kering. Agar tak terlihat, Pang Ali menaruh daun kelapa kering di atas kepalanya. Dari celah-celah daun itulah Pang Ali mengintip aktivitas si Jepang.
Daun kelapa di atas kepala Pang Ali menghalangi pandangan si “saudara tua”. Saat si Jepang semakin dekat, Pang Ali dan kawannya sontak melompat, menerjang si Jepang. Hasilnya, sepucuk senjata berhasil dirampas. Tentara Jepang itu lantas diseret ke markas mereka. “Si Jepang itu lalu kami suruh pulang. Baju seragamnya kami ganti dengan baju biasa,” kenangnya sambil terkekeh.
Semua kisah itu tinggal kenangan. Di usia senja, Pang Ali kini menghabiskan sisa usianya bersama anak dan cucu-cucunya di sebuah rumah berdinding kayu yang sebagian sudah dimakan rayap. Di rumah, ia punya tempat khusus: sebuah bale-bale. Di sana, ia betah duduk sembari memutar kenangan hidup di tiga zaman berbeda. “Saya sudah merasakan hidup di zaman penjajahan dan zaman kemerdekaan,” ujarnya.
Sebagai veteran perang, Pang Ali memang mendapat jatah bulanan dari pemerintah. Setiap bulan, ia mengaku mendapat Rp 470.000 alias Rp 16.000 per hari. “Kalau disuruh memilih, jauh enak hidup di zaman Belanda daripada sekarang,” ujarnya.
Di zaman Belanda, kata Ali, harga barang murah dan stabil. Selain itu, jika hendak bepergian, ada sarana tranportasi murah meriah: kereta api. “Sekarang semua serba mahal, dan perang masih berlangsung,” ujarnya.
***
Berkat perjuangan Pang Ali dan pejuang lain di Aceh, enam puluh tahun sudah Belanda angkat kaki dari Aceh. Kesepakatan Teungku Daud Beureueh dan sejumlah ulama lainnya untuk bergabung dengan Indonesia pada Oktober 1945 menjadi babak baru dalam sejarah Aceh. Sejarah mencatat, kemesraan Aceh dengan Pemerintah Indonesia tak berlangsung lama. Sejak itu, perang seolah enggan beranjak dari Aceh.
Tak heran jika Aceh tak sempat berbenah. Perekonomian morat-marit. Kemiskinan terus membelit provinsi ini. Padahal, Aceh pernah jaya berkat perdagangan cengkeh ke seantero dunia. Di awal kemerdekaan, saat propinsi lain tak mampu berbuat banyak, Aceh tampil menyumbang dua pesawat dan duit US$ 250 ribu untuk Republik, termasuk siaran radio.
Pertengahan Juli lalu, saya memulai perjalanan dari Banda Aceh menuju Langkat, perbatasan Aceh dan Sumatera Utara. Menyusuri sepanjang pantai Utara hingga Timur Aceh, saya melewati 8 kabupaten/kota: Aceh Besar, Pidie, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Utara, Langsa, Aceh Timur dan Aceh Tamiang. Di lintasan itulah dulu Belanda bercokol. Bahkan, jalan raya yang menghubungkan Banda Aceh – Medan adalah peninggalan Belanda (dengan pergeseran ruas jalan di sejumlah tempat).
Tak gampang menemukan saksi hidup yang bisa mengisahkan detil kehidupan masa penjajahan. Di Beureunuen, kota kecil sekitar 35 kilometer arah Timur Sigli, ibukota Kabupaten Pidie, saya menemui Mansoer Ismail, bekas ajudan Teungku Daud Beureueh, gubernur Aceh pertama.
Di usia 106 tahun, daya ingat Abu Mansoer memang sudah lemah. Berkali-kali ia harus berpikir keras mengenang masa lalu. Meski begitu, ia tak pernah melupakan saat Daud Beureueh memerintah dirinya mengutip emas dan uang dari rakyat yang kelak dipakai membeli dua pesawat bagi republik. “Tangan inilah yang mengumpulkan uang dan emas dari rakyat,” ujar Mansoer sambil mengepal tangan kanannya.
Menurut Mansoer, kemakmuran Aceh masa lalu menyebabkan ia tak sulit mengumpulkan uang. “Yang miskin pun ikut menyumbang meski alakadarnya,” ujarnya.
Itu cerita dulu. Sekarang, Aceh adalah provinsi termiskin di Sumatera dan kedua paling melarat di sekujur Indonesia. Simaklah statistik berikut ini: pada 1990, Aceh menyumbang 3,6 persen untuk Produk Domestik Bruto (PDB), sepuluh tahun kemudian melorot menjadi 2,2 persen. “Sekarang, sayur-sayuran saja mesti diangkut dari Medan,” kata Mansoer.
Sepanjang perjalanan, memang banyak sawah di kiri kanan jalan. Tapi, tak sedikit yang terlantar karena tak tergarap optimal. Di Aceh Timur, jejeran hutan sawit terhampar di kiri kanan jalan. Tapi, ya itu tadi, banyak yang terlantar. “Konflik bersenjata di sini membuat orang tak berani berkebun,” ujar seorang warga yang saya temui di sebuah warung kopi di Peurelak, Aceh Timur.
Dengan fakta itu, tak heran jika di sektor pertanian, Aceh hanya menyumbang tak sampai tiga persen dari hasil agrikultur nasional. Mahalnya biaya transportasi diyakini sebagai salah satu penyebab masyarakat harus merogoh kocek lebih dalam. Simaklah cerita Abu Mansoer. Masa Belanda, kata dia, masyarakat memasarkan hasil bumi dari satu kota ke kota lainnya memakai kereta api.
“Barang-barang itu ditumpuk di gerbong-gerbong kereta api. Kami hanya membayar sekedarnya saja,” ujar Abu Mansoer. Hasil bumi yang diangkut diantaranya kelapa, cengkeh, lada, getah karet dan padi.
Bunyi tut…tut…tut…dari cerobong kereta api yang saat itu masih memakai lokomotif uap hanya bertahan hingga 1976. Setelah itu, pengangkutan barang dari dan ke Aceh, praktis hanya menggunakan truk.
Selain untuk angkutan barang, kereta api juga digunakan warga untuk bepergian dari satu daerah ke daerah. Ongkosnya, tentu saja lebih murah dibanding menggunakan bus umum. Waktu tempuhnya memang memang relatif lama. Bila berangkat pagi dari Banda, kereta baru tiba di Sigli saat matahari hampir terbenam. “Sekarang kan hanya butuh waktu dua jam,” kata Mansoer.
Mansoer kecil sering berangkat sekolah dari kampungnya di Jangka Buya ke Meureudu menggunakan Bomel Tram alias kereta lambat. “Kalau Senel Tram (kereta cepat) biasa dipakai orang-orang kaya,” ujarnya.
Menurut Abu Mansoer, kereta api Aceh yang oleh Belanda dinamai “Atjeh Tram” dibangun pada 1901. Menurutnya, pembangunan kereta api adalah salah satu upaya Belanda melemahkan perlawanan rakyat. “Itu untuk mengesankan Belanda berbuat baik untuk masyarakat Aceh,” ujar Mansoer.
Bagi Belanda, kata Mansoer, rel kereta api yang di bangun dari Kutaraja (Banda Aceh) ke Sigli melintasi Gunung Seulawah hingga Besitang melalui Pantai Utara dan Pantai Timur juga bertujuan memudahkan menghadapi para gerilyawan. Karena itu, “tak jarang para pejuang merusak rel kereta,” kata Mansoer.
Belanda juga membangun sejumlah stasiun kereta api sepanjang Kutaraja – Kuala Simpang. Di antaranya di Seulimum, Sigli, Meureudu, Samalanga, Bireueun, Lhokseumawe, Lhoksukon, Panton Labu, Idi, Langsa, dan Kuala Simpang.
Tak mudah melacak jejak kereta zaman Belanda. Sepanjang perjalanan dari Banda Aceh menuju Langkat, perbatasan Aceh-Sumatera Utara, saya hanya menemukan sisa-sisa rel kereta api zaman Belanda di Langsa. Selebihnya, raib. “Banyak yang sudah dibongkar warga dan dijual,” ujar seorang warga.
Bekas stasiun kereta api juga telah berubah fungsi atau dibongkar habis.
Memasuki Peusangan, Bireuen, memang ada beberapa lintasan rel kereta api yang baru dibangun. Masa BJ Habibie, pada 1999, pemerintah memang menjanjikan membangun kembali rel kereta api yang menghubungkan Aceh dengan Sumatera Utara. Namun, sampai saat ini, pembangunan rel hanya terlihat di Bireuen dan Aceh Timur. Itu pun terputus di beberapa tempat. Di Peusangan, Bireuen, rel kereta api yang baru dibuat telah dipotong-potong dan ditumpuk di depan pos polisi.
Sukardi Usman, 56 tahun, warga Desa Pante Pisang, menjadi saksi ketika pekerja membangun rel-rel kereta api di depan rumahnya. Saat itu, Sukardi berpikir, tak lama lagi ia akan kembali merasakan naik kereta api, seperti yang pernah dirasakannya. Tapi, harapan ini hanya tergantung di awang-awang. “Banyak uang yang terbuang sia-sia untuk membangun rel kereta api ini,” ujar Sukardi. Ia menilai, janji pembangunan kembali rel kereta api tak lebih sebagai janji politis pemerintah pusat untuk meredam perlawanan daerah, hal yang menurut Mansoer pernah dilakukan Belanda
***
Siang itu, matahari memancarkan sinar terik di langit Kuala Simpang. Hawa panas membuat Ridwan, 80 tahun, bertelanjang dada. Pria yang sehari-hari mengumpulkan sampah di bekas stasiun kereta api Kuala Simpang –kini terminal minibus– sedang beristirahat di pojok terminal. Hidup Ridwan tampaknya tak bisa lepas dari stasiun kereta api itu. Dulu, ketika kereta api masih ada, Ridwan bekerja sebagai buruh bongkar muat. “Setiap ada kereta yang datang, saya pasti dapat uang,” kenangnya.
Ridwan tak lama merasakan hidup di zaman Belanda. Tapi, ia merasa hidup di zaman Belanda lebih bersahabat daripada sekarang. “Mungkin karena umur saya sudah tua,” ujarnya. Kata Ridwan, meski Belanda sempat menguasai Kuala Simpang, ia tak pernah mendapat kesulitan berarti. “Mereka bikin hal-hal yang menarik hati masyarakat di sini,” ujarnya.
Di Kuala Simpang, tak sulit menemukan bangunan-bangunan khas Belanda: berdinding tebal, pintu dan jendela serba besar dan ditopang penyangga kokoh. Sebagian bangunan itu dipakai untuk kantor pemerintahan, sebagian lainnya dijadikan toko.
Senada dengan Ridwan, Tengku Djubir, salah satu bekas pasukan Mujahidin yang ikut mengusir Belanda mengaku, hidup di zaman Belanda lebih tenang. “Yang paling susah hidup di zaman Jepang. Orang kampung semua makan ubi karena tak ada persediaan makanan,” ujarnya.
Ketika Pangkalan Brandan, Sumatera Utara dibumihanguskan, Zubir dan kawan-kawan bersiap-siap melakukan hal serupa di Kuala Simpang. “Itu untuk mencegah Belanda masuk ke Kuala Simpang. “Kota Kuala sudah dikepung oleh tentara kita untuk dibumihanguskan. Tapi tidak jadi karena Belanda tidak jadi datang,” ujarnya. Tak hanya itu, mereka juga memotong batang-batang karet yang tumbuh subur di daerah itu. Penyebabnya, kata Zubir, Belanda hanya menginginkan daerah yang bisa diangkut hasil buminya.
Belanda memang menambah pasukan di Kuala Simpang. Rantiah, 90 tahun, warga Desa Langkat-Tamiang, perbatasan Aceh- Sumatera Utara, menjadi saksi ketika pasukan Belanda hilir mudik di daerah perbatasan. “Mereka ada yang jalan kaki, naik kuda, ada juga yang naik mobil,” ujarnya.
Meski begitu, Rantiah yang ketika itu berjualan sayur di depan rumahnya di pinggiran jalan raya, tak merasa terganggu dengan kehadiran pasukan Belanda. “Mereka tidak pernah ganggu kami. Bahkan kadang-kadang beli sayur disini,” ujarnya.
Tentu saja itu salah satu sisi saja dari kehadiran Belanda. Masyarakat di Alas, Gayo, atau Pidie yang dibantai pasukan Marsose pimpinan Van Daalen dan Van Heutzs tentu punya cerita lain.
Namun setidaknya bagi nenek delapan cicit ini, tak pernah ada gangguan keamanan di daerahnya sejak dulu hingga kini. Itu sebabnya, warga di daerah itu, hidup tenang.
Syawaluddin, 36 tahun, warga perbatasan yang rumahnya masuk wilayah Aceh juga merasakan hal serupa. Meski rumahnya berjarak 20 kilometer dari perbatasan, Syawaluddin merasa lebih tenang jika sudah berada di perbatasan. “Di daerah kita (Aceh) selalu ribut, makanya kita tidak maju-maju walau sudah merdeka,” ujar pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang bangunan itu.
Syawaludin mungkin benar. Perekomian terkait erat dengan kondisi keamanan. Catatan sejarah menunjukkan, ekonomi Hindia Belanda mengalami kemacetan pada periode 1880-1900. Ini adalah masa ganasnya perang kolonial di Aceh setelah sebelumnya dihantam Java Oorlog alias Perang Jawa melawan Diponegoro (1835-1830). Pertumbuhan ekonomi baru dicapai pada 1990–1930 ketika pertempuran yang menguras banyak biaya itu mereda.
Kondisi itu seolah merujuk pada kondisi Aceh terkini. Perang berkepanjangan antara Gerakan Aceh Merdeka dengan Jakarta telah memporak-porandakan seluruh sendiri kehidupan.
Di Pante Pisang, Peusangan, Pang Ali, bekas panglima prang itu, masih menyimpan sebuah harapan: Hidup tenang dengan harga barang yang murah. [ T a m a t ]
Sejarah Krueng Panjoe
02.19
No comments
Peristiwa Krueng Panjoe
Perang melawan Jepang juga terjadi di Krueng Panjoe, Bireuen. Peristiwa itu terjadi ketika dua batalyon tentara Jepang diangkut dari Lhokseumawe ke Bireuen pimpinan komando Mayor Suzuki. Batalyon ini sejak awal ditempatkan di Lhokseumawe, tapi satu kompi di antaranya dipulangkan ke Medan diganti dengan kompi lain dari Lhoksukon.
Batalyon yang dipimpin Mayor Suzuki berasal dari mantan batalyon pengawal lapangan terbang Blang Pulo dengan komandan Mayor Metsugi. Gabungan kedua Batalyon ini dinamai Suzuki Butay karena dipimpin Mayor Suzuki.
Jepang ingin kembali menduduki beberapa tempat di Bireuen yang banyak menyimpan senjata dan perbekalan perang. Lokasi yang dituju Jepang antara lain: Teupin Mane, Geulanggang Labu, Tambo, Cot Gapu, Blang Pulo dan Kota Bireuen. Mereka akan menggali timbunan senjata untuk diserahkan pada sekutu di Medan.
Di Cot Gapu terdapat terdapat lapangan terbang darurat yang sebelumnya dijadikan resimen induk Jepang yang memasok kebutuhan logistik militernya. Di sana waktu itu masih tersimpan logistik dan senjata Jepang termasuk tank yang onderdilnya sudah dipreteli. Malah dari sekian banyak tank di situ, delapan diantaranya masih bisa difungsikan setelah diperbaiki oleh montir M Yusuf Ahmad.
Sebelum 1000 pasukan Jepang sampai ke Cot Gapu untuk mengambil kembali persenjataannya. Pemuda pejuang dan rakyat menghadangnya di kawasan Krueng Panjoe. Dipilihnya Krueng Panjoe sebagai lokasi penghadangan karena sangat cocok untuk melakukan pengepungan karena dilintasi jalur kereta api.
Pasukan Jepang yang diangkut dengan kereta api cocok dihadang di tempat tersebut. Selain itu, Krueng Panjoe berada di daerah persawahan di sana terdapat tanggung besar yang digunakan untuk mengairi sawah. Tanggul itu bisa dijadikan sebagai pertahanan.
Rel kereta api di Kampung Pante Gajah dekat Krueng Panjoe sekitar tiga kilometer sebelum masuk Stasiun Kereta Api di Matang Geulumpang Dua di bongkar. Pukul 20.30 siang, 24 November 1945, ketika kereta api terperosok tentara Jepang pun diserang dari berbagai sisi.
Pertempuran berlangsung dari siang sampai malam. Subuhnya tentara Jepang menggali lobang perlindungan. Tentara Jepang terkurung. Rakyat Krueng Panjoe bersama pasukan Angkatan Perang Indonesi dan Tentara Kemanan Rakyat (API/TKR) terus menggempur. Bersamaan dengan itu pintu bendungan dibuka, alir mengalir deras ke sawah. Lubang-lubang perlindungan yang digali Jepang penuh dengan air. Mereka terendam dalam persembunyian. Meski demikian, pertempuran terus berlangsung sampai sore hari.
Pada hari ke tiga, 26 November 1945 pukul 12.50 tentara Jepang mengibarkan bendera putih di gerbong kereta api. Jepang menyerah. Pimpinan pasukan Jepang Mayor Ibihara dan juru bicara Muramoto keluar dari gerbong kereta api dengan bendera putih di tangan. Setelah melakukan perundingan Mayor Ibihara tewas. Ia melakukan harakiri (bunuh diri) akibat kekalahan pasukannya itu
Arti Cinta
01.26
No comments
Menurut saya…
Cinta Adalah Ungkapan Perasaan Hati Ekspresi Jiwa & Gejolak Naluri Yang Menggelayuti Hati Seseorang Terhadap Kekasihnya, Ia Terlahir Dengan Penuh Semangat Kasih Sayang & Penuh Kegembiraan. Lembutnya Arti Cinta Hingga Tidak Dapat Diungkapkan Dengan Kata”.
CINTA adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.
CINTA KARENA ALLAH SWT adalah Sebuah Kekuatan Jiwa Yang Akan Melahirkan Perasaan Yang Tajam Untuk Saling Mengasihi Mencintai Menghormati & Saling Mempercayai Setiap Orang Yang Mempunyai Ikatan Yang Sama yaitu…
”IMAN & ISLAM”.
CINTA YANG HAKIKI adalah Sebuah Tumpahan Lautan Perasaan Yang Matang Dengan Sangat Dalam.
CINTA YANG TULUS adalah Cinta Yang Dapat Menghantarkan Seseorang Ke Jenjang Pernikahan.
CINTA YANG ABADI adalah Cinta Yang Paling Agung & Sempurna.
CINTA SEJATI adalah Cinta Yg Terdiri Dari 2 Orang Saja Tidak Ada Tempat Bagi Orang Ke 3.
Cinta bisa disembunyikan, tapi..cinta tidak bisa dibungkam,
maka..katakanlah selagi ada kesempatan..atau kau akan kehilangan dan menyesal…
Cinta menerima apa adanya..mencintai karena adanya perubahan, bukan cinta namanya..melainkan perjanjian.
Dalam cinta tidak ada perjanjian,melainkan keikhlasan. Cinta penuh maaf dan rela berkorban demi yg tercinta bahagia .
Mencintai karena ingin balasan, bukan cinta namanya..melainkan pamrih.Dalam cinta tidak ada pamrih melainkan ketulusan. Cinta penuh keindahan meskipun..hanya dalam khayalan.
Jangan mencari jawaban cinta dengan logika, tapi..tanyalah hati tentang perasaan cinta dan carilah pembenarannya melalui logika.
Jika terus memaksakan keyakinan untuk diterima, Tanya pada diri..apa itu benar cinta..? cinta tidak bermain dengan logika, tapi rasa untuk selalu membuat bahagia, apapun bentuknya.
Jangan salahkan perasaan cinta seseorang terhadapmu..karena ia pun tidak pernah tau tentang rasa cinta yg tumbuh itu.
Jangan kau benci karena cintanya padamu..karena ia pun tersiksa..karena rasa cinta itu padamu.
Jangan kau ambil kesempatan karena cintanya terhadapmu, karena
sesungguhnya kau telah berbuat dzolim karena cintanya terhadapmu
Cinta adalah anugrah Allah yg diberikan kepada hambaNya..yg penuh
keindahan dan hanya bisa dirasakan…..
Dengan cinta orang bisa menutupi luka
Dengan cinta orang bisa menyembuhkan luka
Dengan cinta orang masih bisa berharap
Karena cinta manusia masih mempunyai mimpi
Karena cinta manusia bisa terluka
Karena cinta manusia bisa bahagia
Cinta sejati adalah cinta yg tidak pernah mengharap untuk dibalas.
Cinta sejati hanya memberi walau tanpa menerima. Cinta sejati bisa terluka, tapi tidak kuasa memberikan luka.
Hanya cinta Sang Pencipta yg tak pernah mengharap balasan.
Hanya cinta Sang Khalik yg tak pernah pamrih.
Hanya cinta Sang Pencinta itu sendiri yg selalu setia. Maka cintailah Dia..maka engkau tak akan dikecewakan.
Cintailah Dia, karena cintamu akan terbalas. Cintailah Dia..karena Dia selalu setia. Cintailah Dia..karena kau akan bahagia…
By Jackkapa.
Ajari Aku Cinta
01.19
No comments
C : erita
I : indah
N : amun
T : iada
A : akhir
By Jackkapa
Cinta adalah kepercayaan & keyakinan dari sebuah hati untuk sebuah hati lain, tanpa keyakinan takan ada cinta yg tumbuh antara 2 hati,
Yakinlah! pada dirimu bila hatimu mengatakan cinta jangan kau ingkari karena itu akan menyiksamu tanpa henti…!
Keindahan Yang Alami Adalah Keindahan Yang Bermuara Pada Cawan Cinta Ilahi
Iffah (Kesucian Diri)
Istihsan (Anggapan Baik)
Multazimah (Komitmen Dengan Nilai Agama)
Al-i’jab (Terpesona)
Al-isyqu (Mabuk Cinta)
Barang siapa yang mengaku mencintai seseorang ketika baru melihatnya sekali itu berarti menunjukan kesabaran yang sedikit sehingga kesenangannya akan cepat berakhir.
“Sesungguhnya CINTA bagi seorang “Lelaki” hanyalah sebuah kasus dari seluruh jalan hidupnya sementara bagi seorang “Wanita” Cinta adalah Seluruh Hidupnya.”
Cinta Dalam Islam
01.02
No comments
Cinta Dalam Islam Cinta adalah sesuatu yang dianjurkan dalam islam. Rasulullah SAW dalam sejarahnya, sangat mencintai istrinya Aisyah ra. Rasulullah SAW memanggilnya dengan julukan “humaira” (Si pemilik pipi merah), karena wajahnya menjadi merah tatkala ia marah. Cinta itu sebenarnya perpaduan semangat ruh dan mental, sebelum pada akhirnya terjadi perpaduan fisik. Cinta bukan sekedar nafsu yang diaktualisasikan dalam hal-hal yang berhubungan dengan fisik. Namun, ia merupakan cara interaksi dan pertemuan ruh dengan ruh serta kerinduan jiwa dengan jiwa, bukan jasad dengan jasad. Kemudian peristiwanya itu didukung oleh syariat maupun adat istiadat. Syariat membatasi bagaimana pertemuan itu, lalu adat istiadat mendukungnya. Itulah cinta yang diakui dalam islam antara lelaki dan perempuan, yang target akhirnya adalah pernikahan. Mustahil bahwa dikatakan cinta itu merupakan kunci kebahagiaan, kecuali jika dalam hati seseorang yang sedang bercinta ada perasaan yang tenang, ridha dan tegar. Sementara tipe hati yang seperti itu tidak akan terwujud kecuali jika kedua sejoli yang sedang bercinta meyakini bahwa cintanya akan berakhir dengan memperoleh berkah dari Allah SWT dan direstui keluarga maupun masyarakat. Cinta dan benci takan dapat bertemu. Karena cinta merupakan perpaduan antara getaran perasaan-perasaan yang saling pengertian, sebagai ekspresi seseorang lelaki terhadap perempuan yang is sukai. Penopang perasaan hati adalah penghormatan dan penghargaan seorang lelaki terhadap wanita. Seorang lelaki mungkin dapat menikmati fisik perempuan yang tidak dihormatinya. Akan tetapi, perlu dibedakan antara nafsu dan cinta. ”Lelaki yang melakukan itu ada dua kemungkinan: ia menipu perempuan bahwa ia mencintainya, atau ia menipu dirinya sendiri namun ia tidak sadar. Dengan demikian mustahil ada cinta hakiki kecuali ada penghormatan sebelumnya antara kedua belah pihak. Penghormatan itu tatkala ada kecuali jika setiap pemuda dan pemudi yang bersangkutan meyakini bahwa menjalankan syariat Allah SWT akan melahirkan masa saling menghormati yang menjadi dasar sebuah cinta”. Jika kondisinya tidak demikian, maka cinta akan menjadi sekedar nafsu syahwat yang berbahaya. Dengan demikian islam mengakui cinta namun dengan syarat-syarat tertentu. Syarat tersebut adalah hendaknya cinta berada dalam keadaan aman, dan apat menjada kesucian diri(iffah), serta tetap memperhatikan kebersihan fisik maupun mental.
Senin, 17 Desember 2012
SEUJARAH ACEH
23.06
1 comment
Malik Al Saleh
Sebelum Dinasti Usmaniyah di Turki berdiri pada tahun 699 H-1341 H atau
bersamaan dgn tahun 1385 M-1923 M ternyata nun jauh di belahan dunia
sebelah timur di dunia bagian Asia telah muncul Kerajaan Islam
Samudera-Pasai yg berada di wilayah Aceh yg didirikan oleh Meurah Silu
(Meurah berarti Maharaja dalam bahasa Aceh) yg segera berganti nama
setelah masuk Islam dgn nama Malik al-Saleh yg meninggal pada tahun
1297.
Langganan:
Postingan (Atom)











